Model Bisnis Perusahaan Sukanto Tanoto yang Ramah Lingkungan Jadi Bahan Riset

Model Bisnis Perusahaan Sukanto Tanoto yang Ramah Lingkungan Jadi Bahan Riset

Pendiri Royal Golden Eagle (RGE) Sukanto Tanoto mempunyai prinsip bahwa produksi harus seimbang dengan perlindungan lingkungan. Tak aneh, operasional perusahaannya selalu ramah terhadap alam. Ini sampai menjadi bahan riset oleh pihak lain.

RGE didirikan oleh Sukanto Tanoto pada 1973 dengan nama Raja Garuda Mas. Kala itu, mereka bergerak di industri kayu lapis. Tapi, sekarang perusahaannya sudah berkembang sedemikian besar. Mereka punya anak-anak perusahaan yang berkecimpung di berbagai bidang pemanfaatan sumber daya alam.

Grup APRIL merupakan salah satu di antaranya. Mereka adalah perusahaan Sukanto Tanoto yang menggeluti industri pulp dan kertas. APRIL mengelola perkebunan seluas 480 ribu hektare. Di sana mereka menanam pohon akasia sebagai sumber bahan baku.

Berkat itu, APRIL mampu menjaga kapasitas produksinya selalu tinggi. Mereka sanggup menghasilkan pulp hingga 2,8 juta ton dan kertas mencapai 1,15 juta ton per tahun. Padahal, mereka tidak pernah mengambil kayu dari hutan alam.

Hal itulah yang dirasa menarik oleh berbagai pihak. Sebab, APRIL bisa menjaga produksi selalu tinggi tapi mampu juga melindungi lingkungan. Semua dikarenakan model bisnis produksi dan perlindungan yang dijalankannya.

Lee Kuan Yew School of Public Policy (LKYSPP) memasukkan APRIL ke dalam riset yang berjudul “Model Produksi-Perlindungan Untuk Operasional  Industri Pulp & Kertas Berkelanjutan di Riau, Indonesia. Di dalamnya berisi pemaparan tentang kinerja APRIL.

Secara khusus, LKYSPP menyoroti bagaimana APRIL mengambil langkah cermat untuk menyeimbangkan segi ekonomi dan konservasi dalam produksinya. Menariknya, bersamaan dengan itu, APRIL juga sanggup menjalin relasi apik dengan para pemangku kepetingan lain mulai dari Pemerintah Indonesia, masyarakat, hingga konsumennya.

Untuk melaksanakan riset, Research Associate LKYSPP Tara Thean datang langsung ke basis produksi APRIL di Pangkalan Kerinci, Riau. Di sana ia meneliti sistem operasional perusahaan. Tak lupa, Thean melakukan wawancara dengan sejumlah manajer perusahaan termasuk Chairman APRIL, Bey Soo Khiang.

Dalam kesempatan itu, Bey menandaskan bahwa model bisnis produksi-perlindungan yang dijalankan APRIL merupakan wujud dari visi Sukanto Tanoto. Chairman RGE itu disebutnya sudah memandang bahwa perlindungan lingkungan akan menjadi bagian integral dari operasional perusahaan.

Bey juga menjelaskan bahwa Sukanto Tanoto sampai merumuskan filosofi bisnis 5C sebagai panduan operasional. Di dalamnya berisi arahan agar semua pihak di RGE bermanfaat bagi pelanggan, masyarakat, negara, alam, sehingga akan bermanfaat bagi internal perusahaan.

“Kami mengambil pola pikir pengembangan yang holistik. Banyak orang yang menggantungkan hidupnya di sektor ini,” tandas Bey.

Model bisnis produksi-perlindungan yang dijalankan oleh APRIL berbasis kepada pendekatan bentang alam. Di sini APRIL mengakui bahwa masyarakat merupakan bagian penting dalam menjalankan operasional yang berkelanjutan. Hal tersebut membuat APRIL mengakomodasi berbagai kepentingan di area konsesinya. Perhatian lebih diberikan kepada mereka yang berkontribusi dalam upaya konservasi, restorasi, serta manajemen kebakaran lahan dan hutan.

Sementara itu, terkait keberlanjutan, APRIL sudah melakukannya sejak lama. Pada tahun 2000, mereka melakukan sertifikasi atas kayu-kayu yang menjadi bahan baku. Dengan sertifikat tersebut terdapat jaminan bahwa kayu-kayu itu diperoleh secara legal, bukan dari pembalakan liar. Selain itu, kayu itu dipastikan tidak diperoleh dari hutan dengan nilai konservasi tinggi.

Bukan hanya itu, Sejak 2005 APRIL telah mengkonservasi dan merestorasi 419,000 hektar, sesuai dengan komitmen One for One goal yaitu melaukan konservasi dan restorasi 1 hektar untuk setiap hektar hutan tanaman industri.

Langkah perlindungan lingkungan kemudian diteruskan oleh APRIL dengan menjalankan Sustainable Forest Management Policy 2.0 pada 2015. Sebagai bagiannya, mereka meluncurkan program konservasi 1 Banding 1. Ini adalah program pertama di dunia yang berani menyatakan bahwa perusahaan akan melakukan perlindungan satu hektare begitu ada satu hektare lahan lain yang digunakan untuk produksi.

PELIBATAN MASYARAKAT

RER melakukan patroli rutin di sepanjang sungai Serkap
Sumber Gambar : www[dot]inside-rge.[dot]om

Kunci dari kesuksesan melakukan perlindungan alam adalah keterlibatan masyarakat. Terdesak oleh kebutuhan ekonomi memang membuat warga di sekitar sering masuk ke hutan. Mereka mengambil apa saja yang bisa membantu pemenuhan kebutuhan hidupnya.

Hal ini disadari oleh APRIL. Maka, pelibatan masyarakat selalu dijadikan dasar dalam berbagai kegiatan perlindungan alam yang dijalankannya. Di program Restorasi Ekosistem Riau (RER) yang didukungnya misalnya. Dalam upaya pemulihan lahan gambut seluas 150 ribu hektare di kawasan Semenanjung Kampar tersebut, warga diajak terlibat.

Bentuk pelibatan masyarakat di RER beragam, mulai dari perekrutan sebagai anggota tim, pemberdayaan masyarakat, hingga edukasi tentang perlindungan alam. Operations Head RER Bradford Sanders mengatakan pihaknya berusaha memulihkan dan melindungi lahan gambut dengan berbagai upaya seperti pembuatan kanal drainase, perlidungan satwa, hingga manajemen kebakaran. Mereka juga bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bidara yang mengajari warga untuk mencari sumber penghidupan baru seperti bertani cabai.

Selain di RER, pelibatan masyarakat juga terlihat nyata dalam kegiatan manajemen kebakaran lahan dan hutan yang dijalankan oleh APRIL. Perusahaan Sukanto Tanoto ini menggulirkan Program Desa Bebas Api sejak 2014.

Melalui kegiatan tersebut, APRIL mengajak masyarakat aktif menjaga lingkungannya dari kebakaran. Kalau mampu melakukannya dalam setahun, mereka akan mendapat Rp100 juta dalam bentuk dukungan pembangunan infrastruktur.

Forest Protection Manager APRIL Craig Tribolet mengatakan bahwa pada awalnya tidak mudah untuk mengubah kebiasaan buruk masyarakat terkait lingkungan. Contohnya ialah menghentikan membuka lahan dengan membakar. Namun, APRIL terus konsisten melakukan pendekatan sehingga pola pikir masyarakat dapat diubah.

 “Kami menghabiskan bercangkir-cangkir teh untuk duduk bersama dengan masyarakat membicarakan berbagai masalah. Kami ingin memastikan kegiatan yang kami jalankan sejalan dengan problem dan harapan masyarakat, tentang apa yang diinginkan untuk memecahkan masalah. Pada dasarnya, ini adalah upaya untuk memahami keinginan masyarakat,” kata Tribolet.

Selain dengan warga, pelibatan masyarakat juga dilakukan dengan pemangku kepentingan lain. APRIL menjalin kerja sama dengan berbagai LSM, pemerintah baik tingkat daerah maupun pusat, serta para tokoh masyarakat dalam melakukan perlindungan alam.

“Dari sudut pandang bisnis, kami ingin memastikan bahwa operasional yang kami jalankan terus berlanjut sepanjang waktu. Hal ini berarti pengelolaan sumber daya serta manajemen berbasis pendekatan sains wajib dijalankan supaya bisnis terus berjalan pada masa depan,” ucap Sustainability Manager APRIL Tim Fenton.

Langkah-langkah yang diambil APRIL tersebut tak luput dari pengamatan tim riset LKYSPP. Thean mengataan perusahaan Sukanto Tanoto ini telah mengambil sejumlah langkah untuk menyeimbangkan antara tuntutan produksi dan perlidungan alam dengan baik.

“Studi kasus ini menceritakan tentang kisah sebuah perusahaan yang berupaya mencari keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan di Sumatra, Indonesia, di tengah keberadaan aturan dari pemerintah, perhatian publik, serta tekanan sosioekonomi yang ada,” ujar Thean.

 APRIL dirasa mampu menjalankannya dengan baik. Tak heran, proses operasional perusahaan Sukanto Tanoto ini pantas masuk ke dalam kategori ramah lingkungan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *